Senin, 13 Februari 2012

Jogging Perdana yang Norak

Dear Bear

Pada suatu hari yang gak biasa, gue dan sahabat-sahabat gue membuat rencana untuk melakukan jogging di pagi hari. Ya kalian harus tau, kita tuh adalah manusia-manusia yang enggak pernah olahraga. Suatu ketika tercetuslah inisiatif untuk berolahraga walo sekedar jogging kecil-kecilan saja. Semua peserta jogging terdiri dari 4 ekor anak manusia. Anak manusia pertama adalah gue sebagai sutradara yang telah mencetuskan ide dan merekrut beberapa kru diantaranya  adalah Alpino(Colpet) sebagai perlengkapan yang kebagian tugas membawa beberapa perlengkapan raket untuk bermain badminton. Karena dari sekian banyak anggota yang gue rekrut hanya alpino saja yang punya raket. Ya walo raketnya radak kusam karena termakan usia yang penting tu raket bisa digunakan untuk meramaikan suasana olahraga kita saat itu. Kru selanjutnya adalah BosGenk(Sobi) sebagai tim logistik yang selalu membawa makanan dimanapun dia berada walo hanya sekedar tidur dia selalu mendekap makanan diatas tangannya. dan kru terakhir adalah pared sebagai produser sekaligus pengarah-penyunting-penyelaras sinetron yang akan kita release di pagi ini. Pared adalah satu-satunya kru berwajah cantik diantara penyamun-penyamun disekitarnya. Semua kru berkumpul dibasecamp, dan seperti biasa basecamp yang selalu menjadi incaran mereka adalah cosan gue. Pas kita uda ngumpul, gue ngeliat temen2 gue penampilannya rapih banget. Spontan gue kaget, " Busyeet, mereka kok pada kinclong-kinclong seh. Beda ama gue, gue aja baru bangun tidur dan hanya bermodalkan cuci muka saja" kata hati gue.

Gue: "pet, (panggilan akrab gue ke alpino dan sebaliknya) kamu kok seger banget, penampilanmu rapih amat seh. Kamu mo kulia apa mo jogging pet?" Saat itu dia berpenampilan rapi kaiak orang yang mo kondangan.
Colpet: "hehehe aku gak tau pet harus make' baju apa. Kan ne pertama kalinya aku olahraga, trus ntr juga sekalian mo ke kampus. Biar gak gonta-ganti" ucap alpino dengan wajah datarnya.

Jedder, seketika gue kaget kaiak yang digampar petir berkekuatan 700 knot. Gue hanya bengong ajah and gak tau lagi harus ngomong apa. Kalo dibandingin sih, penampilan gue tuh jomplang banget ama dia, kaiak pembantu dan majikannya. Gue orangnya tampil apa adanya, ya seadanya baju yang ada dilemari gue pake' aja masio belom disetrika. hahaha. satu persatu para peserta jogging pun datang.

Sirkuit tempat kita bakal jogging adalah kampus Unej kita tercinta. dan rutenya muteri area lapangan sepak bola depan perpustakaan. Lo tau gak seh, dipikiran gue saat kita uda pada ngumpul  kita bakalan berjalan kaki menuju kampus. Tapi ternyata salah seorang produser mengatakan kalo sebaeknya kita naek motor saja menuju sirkuit. Karena ini adalah pengalaman pertama kita berolahraga di area kampus, akhirnya kita nurut aja and pada nancep gas menuju perpustakaan. Sesampainnya disana kitapun memarkir motor dan memulai jogging. Gue, alpin, bozGenk and pared berlari kecil-kecil. Awalnya kita berjalan bersamaan, karena tingkat kegemukan kita berbeda-berbeda lambat laun kitapun terpisah satu demi satu. Pared dengan tingkat kekurusan yang sangat extreme berhasil memimpin jogging, dilanjutkan dengan gue dan alpin kemudian yang berhasil memimpin di urutan terakhir adalah si bozGenk. Karena pada diantara kita berempat, bozGenk adalah satu-satuny manusia yang berbadan kekar dengan bobot setengahnya bobot gajah. Gue dan alpin berusaha untuk jogging dengan kecepatan yang stabil agar tidak cepat lelah. Belum nyampe seperempat perjalanan ternyata si boz genk uda kelelahan secara fisik dan mental. Dia hanya mampu berjalan dengan nafas yang radak tersundul-sundul. Didepan gue, si pared uda gak keliatan batang tubuhnya. Entah kemana dia pergi yang jelas rute dia gak sesuai ama rute sebelumnya yang hanya mengitari lapangan sepak bola depan perpus. Setelah gue dan alpin genap memutari satu lapangan tiba-tiba alpin menghentikan langkah kakinya.

Gue: " loh, kok wes berhenti pet? ayook jogging lagi sampek 3 putaran"
alpin: " begh, masih jogging lagi ta? aku uda capek"
Gue; "yaelah, baru satu kali putaran loh. betewe pared kemana? kok gak ada ya?"
alpin: "gak tau, aku gak ngeliat tuh "

Gue dan alpinpun melanjutkan jogging kembali, sedangkan boz genk masih asyik dengan jogging berjalan kakinya di urutan paling akhir. Tiba-tiba si pared nongol dari arah belakang nyalip kita berdua. 

Gue: "heh, kamu dari mana aja? jogging kemana km red?"
Pared: " aku jogging muteri kantor pusat."
Gue: "eh pet, ntr muteri kantor pusat yook kaiak pared"
Alpin: "iyawes ayook"

Sebenere gue pengen ngajak si boz genk untuk muteri kantor pusat, tapi sepertinya dia uda kelabakan untuk ngancurin lemak yang ada ditubuhnya. Gue dan alpin berusaha mengatur napas agar tidak mudah lelah walo pada saat itu kita uda ngos-ngosan. Si pared masih tetep memimpin  jogging dengan mengitari doubleway, Sedangkan kita masih berada jauh dibelakangnya, apalagi si bozGenk. Lo gak usah mikir seberapa jao jarak dia dari kita, cukup dibayangkan saja. Karena gue gak pengen kalah dari si pared, akhirnya gue berinisiatif untuk mengambil jalan pintas. 

Gue: "eh pet, nyerang yook lewat depane kantor pusat biar cepet. sekalian ntr foto-foto, pemandangannya bagus. Mumpung sepi. hehe" akal bulus guepun nongol dan watak kenarsesan gue kambuh secara tiba-tiba.
alpin: "iya iya, ayook lewat situ aja" 

Alhasil, kita berdua melintasi jalan setapak pas didepan kantor pusat bertengger. Kitapun sibuk sekali, dalam kasus ini bukan sibuk mengatur nafas dan menjaga kestabilan langkah lari. akan tetapi sibuk mencari lokasi dan pose yang cocok untuk dijepret. hahahaha. Akhirnya kitapun menemukan gaya dan lokasi yang oke banget untuk di jepret. Silih berganti kita berdua saling jeprat jepret secara bergantian. Gak lama kemudian boz genk menyusul aksi nekat kita berdua. 

Boz Genk: "eh kok enak tenan iku, aku melok taa?? eh eh fotokno aku lah sob (sebutan akrab boz genk ke gue dan sebaliknya). Aku fotokno nang kene yoh"

Brrr.. Kita bertigapun beraksi saling jeprat jepret sana sini kaiak orang yang lagi kesambet setan gaol. dan inilah hasil penampakan yang berhasil dijepret ala foto artis bintang lapangan bal-balan. Cekidot gan ---->> 



Hasil jepretan foto norak carin dan alpin




Hasil jepretan foto norak boz Genk dan carin



Seusainya kita pemotretan, kita bertiga langusng ngegas ngelanjutin jogging yang sempet tertunda. Saking lamanya kita ngejeprat jepret, kita bertiga kagak sadar kalo si pared uda muteri rute doubleway sebanyak 4 kali. Karena kita bertiga uda pada ngos-ngosan kelelahan akibat kebanyakan melakukan pemotretan, kita berinisiatif untuk melakukan penghentian jogging.

Gue: "eeh, aku kok capek ya. kamu gak capek ta?"
Alpin: "iya aku juga capek"
Gue: "awakmu gak kesel ta sob?"
BozGenk: " iyo kesel pisan aku" 
Gue: "yook badmintonan aja. biarin si pared jogging, kita badmintonan ae"

akhirnya kita bertiga harus merasa puas dengan jogging 1 putaran penuh rute lapangan dan setengah putaran rute doubleway. Lo pasti nyimpulin, kalo olahraga kita ini merupakan olahraga cap teri yang norak abez dan gak niat sepanjang sejarah perJoggingan. jangan sekali-kali anda meniru kelakuan kita bertiga yang norak sangat. Sekian dan The End . See yaaa ^00^

Jumat, 10 Februari 2012

Galau Perdana Ganteng

Dear Bear

Heyya guys, seperti biasa pagi ini tepatny hari ini gue mengalami kejadian yang bener-bener bikin gue kepikiran melulu and dilanda kebimbangan. Kalo dibahasa gaolnya jaman anak muda sekarang seh disebut GALAU. Saat mentari mulai mengintip dibalik jendela, gue bergegas ke kamar mandi walo sebenernya roh gue blom ngumpul semua. Bukan karena gue bangun kesiangan lalu terlambat ngajar kesekolah, tapi karena perut gue gag mau diajak mbangkong. Alhasil gue langsung lompat dari tempat tidur gue ala ninja hatori. 
"huuffftt lega banget" kata hati gue sembari keluar dari kamar mandi. Gak lama kemudian gue melanjutkan piknik gue lagi ke alam mimpi. Entah kenapa, piknik gue gak bertahan lama. Pas gue uda bangun, hal pertama yang ada dipikiran gue adalah maketin baju-baju gue ke binatu karena gue lagi mogok nyuci and gue harus hunting perdana ganteng yang  semalam sempet tertunda. Kenapa gue sebut perdana ganteng? karena, dalam spesies keperdanaan nomer enggak ada yang namanya diskriminasi gender. Dan setiap perdana bebas untuk memilih gender mereka masing-masing. Jadi, biar adil gue sebut perdana yang mo gue beli dengan perdana ganteng. Baju-baju guepun uda terbungkus rapi and siap antar. Tugas gue saat ini adalah mencari makhluk setengah-setangah buat nemenin peteluangan gue mencari perdana ganteng. Lo pasti tau siapa makhluk setengah-setengah yang gue maksud. Lo bener, otak lo cerdas gan, tebakan lo pada itu emang tepat sekali. Dia adalah ayuk si mbak kos gue yang selalu gue seret kemanapun gue pergi dengan petualangan yang bener-bener menguras muka. Lo pasti tau kan maksud dari menguras muka, ya persis seperti tema biasanya lah. hehe

Gue: "mbak, engkok melok aku yoh nang laundryan karo grapari golek perdana ganteng" 
Ayuk: "iyoh, engkok jam piro?" 
Gue: "Jam 9 or 10 an yo?"
Ayuk: "iyoh, eh aku  nyelang laptopmu yo dilut ndelok data"
Gue: "oke mbak, monggo" gue menjawab sambil tidur-tiduran di atas kasur sembari menunggu pukul 9. ayuk pun sibuk memandangi layar dengan data-data yang gue enggak paham apa isinya karena gue gak ngeliat data ayuk. 

Ayuk: "awakmu aduso dikek, engkok aku tak umbah-umbah. eh gak sido wes, direndem ae."
Gue: "iyo mbak, sek enteni. bar iki aku tak adus."

Gak lama kemudian, guepun bergegas otw kekamar mandi dan setelah berdetik-detik didalam kamar mandi guepun otw ke kamar lagi. Berhubung ayuk masih sibuk dan sepertinya data-data itu bener-bener sakit sehingga butuh waktu ekstra untuk mengobatinya. Dengan begitu sabarnya, gue menunggu ayuk sambil tidur-tiduran. Pas gue ngelirik Hape, ternyata hape gue menunjukkan pukul 10. 

Gue: "Engg... mbak, sek sui ta?"
Ayuk: "enggak iki sek kari sitik, bar iki mari"
Gue: "peyan sek kape adus karo umbah-umbah bar iki yo??"
Ayuk: "iyoh adus, tapi klambine tak rendem ae"

Lo tau gak, gue nanya gitu karena gue tau, kalo ayuk mandi tuh waktu terbang dia dikamar mandi bisa berabad-abad lamanya dan tidak pernah ada suara berisik alias hening. Entah apa aja yang dia lakukan didalam kolam mini itu gue enggak paham. 

Gue: "Aku nang laundryan dikek yoh, engkok aku balek maneh nyusul sampeyan"
Ayuk: "gak menisan ae ta, menisan mettu engkok"
Gue; "Maksudku ben gak kesuwen ngono mbak"
Ayuk: "iki wes mari kok"
Gue: "oh yowes lek ngono menisan ae wes. tak enteni"

Akhirnya gue and ayuk cabut ke tempat laundryan dan menuju grapari. Tujuan utama gue ada dua, Grapari I***S*T and grapari *X*S. Ditengah-tengah perjalanan menuju grapari *X*S tiba-tiba awan dan langit saling galau-galauan. 

"duh, kok mendung seh. Moga-moga aja awan dan langit enggak nangis menderu-deru. Bisa gaswat neh urusan gue entar. Bisa-bisa gue gagal ngedapetin dua perdana ganteng hari ini. Aaahh sial.  " kata hati gue sambil menoleh ke arah awan dan langit yang sedang dilema. Pas gue uda nyampe dipersimpangan pasar tanjung, gue merasa ada yang gak beres ama awan dan langit. Ternyata firasat gue bener, "mampus deh, gerimis" kata fikiran gue.

Gue: "mbak, koioke udan deh iki"
Ayuk: "loh iyo tha"
Gue; "iyo iki lho gerimis"
Ayuk: "trus piye, awakmu gowo mantel gak?"
Gue: "nggowo seh, tapi aku males mantelan" 

Gilak, gue gak mau imajinasi gue kapan hari menjadi nyata disepanjang perjalanan gue hunting perdana ganteng. Lo tau kan, gue paling anti make' mantel kalo gak mendesak bener. Karena gue gak mau terlihat kaiak kelelawar kecemplung got yang keleleran dijalanan kaiak orang gak beres. Gue pun ngegas sekenceng-kencengnya supaya Setibanya gue digrapari *X*S gue gak kehujanan. Harapan gue pun terkabul, gue tiba digrapari itu dengan selamat tanpa ada yang lecet sedikitpun gara-gara tangisan awan dan langit. 

CS : "ada yang bisa dibantu?"
Gue: "iya, saya mau nyari perdana. ada apa enggak?"
CS: "oh iya ada, sebentar saya ambilkan dulu"
Gue: "oh iya" gue menunggu sambil melihat-lihat sekitar sapa tau ada yang mencuri hatiku. hehe
CS: "ini nomernya, silahkan dilihat"

Gue ngeliat nomer-nomer itu satu persatu, tapi tak satupun perdana yang nyangkut dihati gue. "gilak, ne nomer kok berantakan seh. gak ada yang bagusan apa ya" kata hati gue.

Gue: "mas, ada perdana cantik gak? belakange 2****2 "gue sengaja milih nomer yang belakang mirip banget ama nomer ganteng gue yang biasa gue pakek.
CS: "kalo perdana cantik, harus pesen dulu. kalo untuk 6 digit yang sama susah mbak. Paling cuma bisa mirip 5 digit dibelakangnya saja"
Gue: "oh gitu, tapi ada gak mas yang nomer belakange mirip kaiak gitu"
CS: "sebentar ya mbak, saya cek dulu di sistemnya"

Gak lama kemudian, CS itu nyodorin selembar kertas bertuliskan nomer ganteng yang  gue pesen. 

CS: "disistem kami adanya cuma nomer ini mbak, **** ** **2***. mirip, tapi cuma beda satu angka saja" 
Gue: "yah, kok gak ada yang persis ya ma?. "
CS: "susah mbak, soalnya yang ada sistem cuma tersedia nomer ini. Ada yang sama persis, tapi pas disearching kode area untuk pamekasan bukan area jember. Jadi kita gak bisa ambil nomer itu."
Gue: "kalo nomer ini harganya berapa?"
CS: " kalo pesen nomer harganya *00.000 dan bonus pulsa 75rbu "
Gue: "ow, kalo nomer digit blakangnya ***0 ada apa enggak?"
CS: "sebentar saya liatkan. Untuk nomer itu ada disitem mbak. mbak bisa pesen kalo mau. tp nomernya baru aktif setelah 1x24 jam."
Gue: "oh gtu. Eng... yauda mas, makasih ya. Ntr kalo emang jadi saya kembali lagi. makasih"

Gue langsung aja nyeret ayuk bergegas keluar karena lo tau, harganya selangit bok gilak. Akhirnya gue  menuju ke grapari kedua yang letaknya nunjao disana. Diperjalanan gue mikir-mikir untuk beli perdana ganteng *X*S yang nomernya mirip banget ama nomer ganteng yang biasa gue pake. Gue mikir sampe botak, kalo gue beli tu perdana gue bakal jatoh miskin dan gak makan selama setaon. Trus gue mencoba untuk mengkalkulasi keuntungan yang gue dapet kalo gue beli perdana ganteng itu. Guepun minta pendapat si ayuk.

Gue: "mbak, nomere dituku gak yoh?nomere apik seh, mirip karo nomerku. tapi sayange larang."
Ayuk: "yo sak karepmu, tapi larang ee nomere"
Gue: "iyo seh larang, tapi vouchere kan lumayan mbak 75rbu. cobak otaknya dijalankan, lek dikalkulasi seh gak larang-larang banget. yo gak? "
Ayuk: "hahaha iyo seh, tapi bagiku yo larang"
Gue: "tapi gapopo, nomere apik. wedine engkok dipesen wong liyo mbak. Yes yes, akhire aku nemu nomer sing tak golek'i. hahahahaha" gue ngomong ke ayuk sambil tertawa lepas cekikikan kaiak setan kuntilanak yang lagi mangkal di pohon beringin. Saat gue noleh ke arah angkot pas disebelah kiri motor yang sedang gue tunggangi, secara gak sengaja gue ngeliat ada bapak-bapak nunjuk kearah gue sambil tersenyum lebar kaiak  Giant yang lagi ngetawain nobita. Spontan gue langsung nutup mulut gue yang tertawa cekikikan sambil ngegas sekenceng-kencengnya. gilak, gue gak nyadar kalo selama perbincangan gue dan ayuk yang norak banget itu ternyata mengundang perhatian bapak-bapak yang duduk pas dipojokan belakang angkot. Sial, saat itu juga gue salting dan mati gaya. untung aja bapak itu gak kenal gue.

Setibanya digrapari kedua, gue bertanya ama CS disana.

Gue: " mbak, mau nyari perdana ganteng"
CS: "oh, kalo perdana ganteng bukan disini mbak tempatnya. Mbak bisa cari di jalan sumatera ato dijalan kalimantan"

"mampus deh loh, gue udah jao-jao muter-muter kesana kemari ternyata digrapari ini gak ada perdana gantengnya. mana gak bisa pesen nomer sesuai minat pula'. ancritt. " kata hati gue. Yauda deh, mau gimana lagi gue harus muter arah yang lo tau arahnya tuh bertolak belakang banget. dan gilanya, tempat dimana gue harus nyari perdana kedua tuh gak jao dari tempat kos gue. Bayangin aja, dari sabang sampe merauke jarak yang uda gue tempuh, ternyata perdana ganteng itu nongkrongnya justru di timor leste. Sial, apes banget deh gue. mana uda keujanan pula. 

Pas gue uda ngeliat model-model ganteng yang dipanjang di etalase berkaca tipis itu, akhirnya ada yang menyedot perhatian gue. Gak hanya itu, model-model itu uda mencuri hati gue sampai-sampai gue bengong gak bisa ngomong. Dari sekian banyak model, gue harus memilih satu model ganteng saja. Setelah gue teliti lagi, nomer itu persis sama ama nomer yang gue pesen digrapari pertama tadi walo ada sedikit perbedaan jenis nomernya. Tapi nomernya sama-sama bernomer genap. kalo jenis yang pertama adalah angka 2, kalo jenis yang ini 4. Gak lama kemudian gue ngebeli nomer itu, khusus untuk nomer I***S*T. Kali ini gue harus ngebeli nomer yang uda gue pesen tadi walo gak dipesen secara resmi seh. Akhirnya gue nyeret ayuk lagi kembali ke grapari *X*S. Setibanya didepan grapari, gue mikir lagi.

Gue:"mbak, sido tuku gak yo? piye iki, sido gak yo? kok galau aku. garai nomere larang seh."
Ayuk: "sesok ae wes tukune, engkok tak terne wes."

Guepun nurutin apa kata ayuk, pas ditengah jalan, tiba-tiba gue keinget kalo besok sabtu tuh gue ada acara maulud nabi di sekolah gue. 

Gue; "waduh, koioke lek kesok gak iso mbak. aku moleh onok acara nang sekolahan. beno wes mbalek maneh, tak tuku saiki ae."

Gue kembali lagi muter-muter jalanan yang sama sebanyak 4 kali putaran. Lo pikir aja gimana pusingnya ayuk kala itu, pasti kepala dia pusing and mo muntah kaiak balita yang lagi naek odong-odong sebanyak 100 kali. Pas gue kembali, CS itupun langsung membuatkan nota pembelian nomer and segera membuat cetakan kartu perdana ganteng yang uda gue pesen. Setelah gue bayar, gue dan ayuk segera kembali kecos sambil membeli sarapan walo batas waktu sarapan uda expired karena uda pukul setengah 1 siang. Semua itu terjadi demi ngedapetin perdana ganteng gue. Setelah gue cek dan gue pikir-pikir, kok hati gue gak srek ama ni nomer. Akhirnya gue ngajak ayuk buat nuker nomer itu lagi, kali aja bisa diganti kode nomernya. Daripada gue nyesel seumur idup gue, apa salahnya kalo gue coba kembali lagi. Kalo emang bisa, gue bakalan menari-nari kegirangan ala tarian hula-hula pantai hawai didepan grapari. Tapi kalo gak bisa, yauda deh resikonya muka gue harus tergadaikan lagi untuk yang kesekian kian kian. Sebenernya gue malu banget, harus kembali kesana untuk yang kesekian kali karena uda membingungkan diri sendiri. Ternyata pas uda digrapari, CSnya ngomong kalo nomer perdana yang uda dibeli gak bisa dituker lagi. Dan nomer yang mo gue ganti angkanya gak terdaftar disistem. 

CS: "mbaknya tadi uda bayar ya, kalo uda bayar gak bisa dikembalikan mbak"
Gue; "trus nomer yang itu beneran gak terdaftar kan mas?
CS: "iya bener kok"
Gue: "untung aja gak ada, kalo sampe terdaftar saya bakalan nyesel seumur-umur mas"
CS: "hehe iya mbak, kita pasti bakalan menginformasikan nomer mulai dari kode yang terkecil sampe yang terbesar. dan mentok-mentoknya ya di kode yang itu mbak."
Gue: "oh yauda mas, makasih ya"

Guepun keluar grapari itu dengan wajah campur sari kaiak es teler dicampur es cendol bernuansa nano-nano. Lo pikir aja bakal kaiak gimana tuh wajah campursari gue. Yauda deh, akhirnya gue dan ayuk harus pulang dengan lapang muka dan gue harus bisa nerima 2 model perdana ganteng yang uda susah payah gue dapetin dengan perjuangan yang konyol dan norak abez. Hatam. See ya ^00^







Kamis, 09 Februari 2012

The Show Goes On - Lupe Fiasco


Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun go?Just remember when you come up, the show goes on

Have you ever had the feelin' that you was bein' had?Don't that shit there make you mad? They treat you like a slavePut chains all on your soul and put whips up on your backThey be lyin' through they teeth, hope you slip up off your path

I don't switch up, I just laugh, put my kicks up on they deskUnaffected by they threats, then get busy on they assSee, that's how that Chi-Town made me, that's how my daddy raised meThat glitterin' may not be gold, don't let nobody play me

If you are my homeboy, you'll never have to pay meGo on and put your hands up when times is hard, you stand upL-U-P the man, 'cause the brand that the fans trustSo even if they ban us, they'll never slow my plans up

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on

One in the air for the people ain't hereTwo in the air for the father that's thereThree in the air for the kids in the ghettoFour for the kids that don't wanna be there

None for the niggas tryin' to hold them backFive in the air for the teachers not scaredTo tell those kids that's livin' in the ghettoThat the niggas holdin' back that the world is theirs

Yeah, the world is yours, I was once that little boyTerrified of the world, now I'm on a world tourI will give up everything even start a world warFor these ghetto girls and boys, I'm rappin' 'round the world for

Africa to New York, Haiti, then I detourOakland out to Auckland, Gaza Strip to DetroitSay hip hop only destroy, tell 'em look at me, boyI hope your son don't have a gun and never be a D-boy

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on

So no matter what you been through, no matter what you intoNo matter what you see when you look outside your windowBrown grass or green grass, picket fence or barbed wireNever ever put them down, you just lift your arms higher

Raise 'em 'til your arms tired let 'em know you hereThat you struggling, survivin', that you gon' persevereYeah, ain't nobody leavin', nobody goin' homeEven if they turn the lights out, the show is goin' on

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on

Alright, already, the show goes onAll night 'til the morning, we dream so longAnybody ever wonder when they would see the sun goJust remember when you come up, the show goes on


Read more: LUPE FIASCO - THE SHOW GOES ON LYRICS http://www.metrolyrics.com/the-show-goes-on-lyrics-lupe-fiasco.html#ixzz1ltvDm6vT 
Copied from MetroLyrics.com 

Rabu, 08 Februari 2012

Reputasi Vs Paha Ayam

Dear Bear Blogg

Hai agan and aganwati yang gue kagumi, seperti biasa hari ini gue pengen berbagi cerita ama lo. Tau gak sih, Malem ini gue apes banget loh. Pastinya lo uda pada bisa mikir and nebak, kejadian apes apa lagi yang bakal nimpa gue. Lo pasti bakal mikir kalo ada kejadian memalukan nimpa gue malem ini, ya kan?. dan  apesnya tebakan lo itu bener guys, seperti biasanya lah kejadian memalukan itu selalu aja identik and melekat ama gue. Entah kenapa, gue juga enggak habis mikir, kenapa idup gue selalu langganan ama hal-hal yang berbau naas dengan tema "memalukan". Gue sih cuma bisa pasrah aja ama idup gue, cuz idup itu indah kauan and harus disyukuri bagaimanapun jenis tema idup lo semua *sok bijak*. 

Pas gue lagi serius-seriusnya ngasih bimbingan matematika bertema trigonometri yang penuh dengan kisah para Sin-den, Cos-an, Tan-don secara privat. Tiba -tiba HP gue bergetar-getar kaiak robot yang abiz kena setrum sambil kejang-kejang. Seketika keseriusan yang uda terbentuk dengan begitu susahnya bubar begitu saja dalam keheningan malam. Karena gue penasaran, akhirnya gue nyolong-nyolong kesempatan buat ngebuka escemes yang masuk. saat gue buka, ternyata escemes itu isinya "Rin, kamu lek balik kecosan aku nitip nasi lalapan ayam yo". Jleebb, respon pertama gue saat ngebaca escemes yang kedatangannya uda mecahin konsentrasi gue menjadi berkeping keping logam sampe enggak bisa mikir. Kirain gue, ada escemes dari seseorang yang bener-bener urgent and butuh bantuan gue banget ato paling tidak dari seseorang yang gue harepin entah siapa. Dan ternyata emang dari seseorang yang lagi butuh bantuan gue untuk ngebungkusin lalapan. Lo pikir aja, seberapa besar tingkat ke-urgent'nannya dimata lo dan gue. 

Nah, saat materi memasuki tahap finishing tiba-tiba ada suara berisik yang mengganggu idung gue. Pas gue noleh kearah jendela bergorden transparan berwarna putih dengan motif bolong-bolong berukuran micro. Terlihat ada penampakan hujan yang dateng secara rombongan bersama geng mereka yang hobi nongkrong bareng pas langit dan awan lagi galau. Hal pertama yang terlintas di otak gue adalah gimana caranya gue beli lalapan ditengah-tengah derasnya hujan yang sedang asyek nongkrong bareng kolega-kolega para hujan. Gue enggak mikir naseb lalapan dan ayamnya, cuz gue nyadar mereka berdua pasti uda terbungkus and gak bakal kena ujan. Nah, gimana ama nasib gue saat ngebeli tu lalap? pastinya gak bakal lucu beli lalapan make' jas hujan yang basah kuyup dengan jenis jas hujan yang gede banget. Pastinya penampilan gue gak matching and gak keren, dan gue yakin sratos persen gue pasti kaiak kelelawar kecemplung got. Gue gak mau hal itu terjadi, seketika itu juga gue langsung nyamber HP and segera ngereply escemes tadi. 

Escemespun selesai gue ketik, "Mbak udan deres, sepurane aku gak iso numbasne maem". Entah kenapa, escemes gue lama banget kesendingnya. Pas gue tungguin dengan tidak sabar, tiba-tiba ada tulisan "Message Not send, Save to draft". Gue cuma bisa melongo sambil mangap, "loh". Tapi gue enggak kehabisan akal, gue kirim lagi tuh escemes. Dan ternyata reaksi yang diberikan tetep sama "Message Not send, Save to draft".

 "Ancriiit, kenapa sih sms gue  daritadi failed mulu" kata hati gue.
 "mungkin jaringannya lagi gangguan mental, makanya trouble and gak bisa ngirim escemes" kata pikiran gue.
"tapi masa iya sih, jaringannya lagi gangguan mental? kaiaknya sebelum berangkat tadi, jaringannya sehat-sehat saja and gak ada tanda-tanda gangguan jiwa" kata hati gue.
"coba deh, lo cek pulsa dulu kali aja lo bakalan nemuin harta karun nyasar" kata pikiran gue.

Akhirnya gue cek saldo, saat gue ngeliat tampilan layar bertuliskan "sisa Pulsa anda Rp. 78". Ngoooookkk, sepontan gue tersepona dengan nominal angka harta karun yang nilainya sangat fantastis minimnya. 

"Ooo pantes escemesnya failed mulu, lha wong pulsanya lagi gulung tikar trus sarafnya keganggu akhirnya terserang gangguan kebatinan" kata pikiran gue.
"berarti yang gangguan mental bukan jaringannya, tapi pulsanya" kata hati gue.

Yauda deh, gue enggak bisa berbuat apa lagi selaen ngebeliin nasi berayam. Setelah bimbingan finishing, akhirnya gue langsung cabut nyamperin motor gue. Karena ujan masih nongkrong and gak mau bubar, gue berinisiatif make' mantel yang sebenernya gak pengen gue masukin kedalam inisiatif gue. Berhubung uda gak ada jalan keluar laen selaen make' tu mantel, dengan sangat terpukul gue ngambil mantel di jok motor. Pas gue udah make' mantel and siap ngegas motor. Tiba-tiba ujan dan para rombongannya bubar seketika entah pada kabur ketongkrongan mana gue gak tau. Gue noleh ke arah langit yang dipenuhi lampu-lampu jalan.

"sial, ujannya ilang. untung aja blom berangkat, masih didepan garasi. Coba' kalo ujannya tiba-tiba ilang ditengah-tengah jalan, apa jadinya gue ntr" ucap gue ke murid gue.
"hahaha, mbak carin make' jas hujannya kelamaan sih. Ujannya keburu reda." kata murid gue.
"hehe iya, kaiaknya seh gitu. tapi gak apa-apa seh, jadinya gak usa mantelan" balas gue sambil tersenyum girang.

Gue seneng banget, ujannya cuma nongkrong bentar doank. Jadinya gue gak bakalan kaiak kelelawar kecemplung got seperti imajinasi gue. Pas gue udah nyampe diwarung pojokan deket DPR langganan gue, tempat gue biasanya ngebungkus nasi lalapan. Gue pun memesan sebungkus nasi lalapan ayam sesuai pesanan di escemes tadi. 

"lha carina" sapa mbah penjual nasi lalapan.
"hai mbah, pesen lalapan ayam ya mbah" gue balik nyapa mbah itu.
"ayamnya dikasi nasi?" jawab mbah.

Coba deh lo pikir, pastinya lo pernah kan mesen lalapan?. Emange kalo pesen lalapan itu nasinya gak ikut nominasi kali ya. Apalagi yang mesen nasi tuh wajahnya uda kaiak orang kelaperan yang gak makan selama 3 bulan -_-!

"ya iya mbah, pake' nasi. aah mbahnya ne gimana, kan laper aku mbah." tutur gue sambil nyolek mbah itu.
"hehe kirain gak sama nasinya" balas mbah.

Sembari nungguin paha ayam yang lagi mandi di atas wajan, guepun merogoh-rogoh tas gue nyariin dompet gue buat nyiapin duit tagihan pemandian paha ayam itu. 

"kok ada yang aneh, kenapa barang yang gue cari gak ada sih? ngumpet dimana ne dompet" kata hati gue.

Gue terus-terusan ngerogoh tas gue, gak lama kemudian gue mikir sampe botak. 

"Gilak, astogim. dompet gue nongkrong dimana, apa jangan-jangan ikut rombongan ujan tadi ya? ah sial, apes banget dompet gue gak ketemu. Kaiaknya tuh dompet nongkrong di tas laptop gue" Kata pikiran gue.

Ternyata paha ayam uda kelar mandi saat gue noleh ke arah wajan panas itu. 
"duh mampus gue" ucap gue dengan tatapan kosong dan wajah lungset. 
"mbah mbah, sek bentar ya mbah" gue berkata ama mbah itu.
"kenapa rin?" tanya mbah'e.
" Engggg. . . anu mbah, aku tak pergi bentar ya mbah" balas gue dengan wajah mencurigakan kaiak orang yang lagi kebelet boker.
"loh, ini uda selesai lalapanya tinggal dibungkus" kata mbahnya.
"enggak mbah, bentar doank kok mbah. gak bakal lama. bentar ya mbah" gue ngejawab and berusaha ngeyakinin mbah itu kalo gue gak bakal kabur gitu aja seolah-olah gue beneran ada urusan yang penting banget.
"kenapa rin? lupa bawa dompet ta?" tebak mbah penjual.

Gleeekkk, mak jlebb, Nyuuutttt . . .  Seketika gue berhenti melangkah saat itu juga. Kemudian dengan tatapan penuh ketidakberdayaan gue menoleh ke arah mbah berharap mbah mengampuni segala dosa-dosa gue.

"hehe, iya mbah. aku lupa bawa dompet. tenang mbah, cosanku deket kok mbah. ini lo mbah, disitu tu mbah. bentar ya mbah" gue ngejawab tebakan mbah dengan santainya walo muka gue uda ancur banget and setebal baja.
"gak papa kok rin, besok malem aja bayarnya. biar wes gak papa kok, ini nasiny bawa aja" kata mbah sambil ketawa. 
"engggg... beneran ta mbah, aduh mbah aku jadi gak enak nih. makasih ya mbak, aku beneran lupa bawa dompet mbah. hehehe" kata gue sambil memasang wajah terimoet gue yang seolah-olah gak pernah berlumur dosa.
"iyah gak papa" balas mbahnya.
"aku pamit dulu ya mbah, makasih lo mbah" gue berpamitan sambil menebar senyum ke arah mbah yang berhati baik dan memiliki bakat terpendamnya dedy corbuzier. 

"ngerti ae seh mbah iki lek dompetku keri" kata hati gue sambil ngebatin.

Lo tau gak, gue sempet mikir gini "heran deh, kenapa seh gue selalu apes banget. Dan kenapa juga' bakat pikun gue ini selalu meningkat tajam. idup gue kan jadi berasa nano-nano, kalo uda pikun jadi berasa coca-cola deh. Herannya gue, nasi bungkusan ini tuh bukan gue yang bakal menikmatinya, tapi mbak cos gue. dan lo tau, sapa yang uda mesen nasi bungkusan ini? lo pada harus bisa nebak,  yang mesen nasi bungkusan ini tuh namanya ayuk, mbak cos gue yang selalu mengalami keApesan ditiap agenda keluar kita berdua. kali ini dia gak kecipratan malu karena ulah brutal gue, tapi gue harus rela menggadaikan dan mempertaruhkan reputasi gue hanya karena sebuah nasi paha ayam bungkusan. T___T Mungkin, idup gue dan ayuk uda ditakdirkan saling berkorespondensi satu-satu dalam situasi yang kurang menguntungkan. Grrrrr. Sekian dan Tamat ^00^//





Selasa, 07 Februari 2012

Berawal Dari Nota Tilang

Dear Dear

Saat itu hari senin, tepatnya tanggal berapa gue gak paham. Pokoknya pertengahan november 2011. Kalo dilihat dikalender tuh kira-kira sekitar tanggal 14an. Pagi itu cuaca kota gue sedang bersahabat dengan langit dan awan disekitarnya. Entah apa yang dipersahabatkan gue gak tau dengan pasti karena gue bukan nyokap mereka. Tapi yang jelas mereka membuat suasana hati gue gembira. Kala itu gue sedang bersiap-siap hendak menuju ke tempat laundry and service laptop di jalan karimata karena kebetulan gue sedang mogok nyuci baju and laptop gue juga ikut-ikutan mogok alias gak mo nyala. sesampainya gue di bundaran bangka, gue sempet berfikir dengan penuh keragu-raguan. Baeknya gue belok kanan ke arah jalan halmahera menuju servicesan laptop ato ngenceng aja ke arah jalan karimata menuju laundryan. Alhasil, dalam keadaan bingung gue gak bisa mikir secara steril kaiak reaktan yang gak disterilin dulu sebelum direaksikan dengan senyawa kimia laen yang efeknya bisa menghasilkan ledakan populasi *gak nyambung abez*. Akibatnya gue mutusin buat ambil jalur lurus, walo sebenernya bukan gue yang mutusin tapi motor gue. 

Disitulah gue mulae ngeliat ada pembatas yang bertuliskan "Operasi Polisi" semacam cegatan motor ato sejenis razia motor ganteng. Respon gue saat ngeliat pembatas polisi itu bener-bener flat alias bermuka datar. Karena dari dalam lubuk hati gue yang paling dangkal sekalipun, hati gue menyarankan agar gue lanjut aja and gak usa muter balik dibundaran yang gue lintasi itu. Hati gue ngomong ke gue, "Udah, ngapaen juga lo takut, lagian surat-surat lo kan lengkap and ini kesempatan lo buat nunjukin ke polisi-polisi itu kalo lo itu pengendara yang taat lalu lintas dan rambu-rambu. Setelah sekian abad lo punya SIM kan kagak pernah nemuin operasian kaiak begini" ucap hati gue. Nah, seketika itu juga gue nurut aja ama hati gue. Pas gue distop ama salah satu polisi berciri-ciri tubuh kekar kaiak pendekar, berambut cepak ala penyanyi elfis presley dan berkulit cokelat lebam ala artis afrika utara, Om polisi itu pun segera menyapa gue dengan gayanya  yang khas ala prajurit tam tama memberikan penghormatan singkat. Kenapa gue panggil OM, karena polisi itu usianya tanggung banget. Remaja yo gak remaja, dewasa yo gak dewasa, manula yo juga enggak. Pokoknya polisi itu berumur tanggung deh. 

"Selamat pagi! Bisa tunjukkan surat-suratnya" ucap om polisi itu dengan nada sangat lantang kaiak burung kutilang yang lagi nyari makan. 
"iya, pagi pak! oh tunggu sebentar ya pak saya cari dulu suratnya" jawab gue sambil merogoh dompet nyari'in SIM and STNK. 

Gak lama kemudian gue sodorin tuh surat-surat sesuai permintaan om polisi itu. Untung aja gue cerdas, kalo enggak paling uda gue sodorin surat undangan nikahannya temen gue. Abiz  polisi ntu kagak jelas ngomong jenis surat apa yang dia minta.

"oh ya pak, ini dalam rangka apa kok ada cegatan? Emang yang di tilang tuh yang kaiak gmna?" tanya gue ke om polisi itu. 
"Ya dalam rangka pemeriksaan kelengkapan kendaraan dan surat-surat berkendara" jawab polisi berumur tanggung itu.
 "oh gitu toh pak" jawab gue dengan begitu puedenya. 
"iya, oh ya mbak kena tilang karena kaca spion motornya cuma satu" sahut polisi.
 "what the hell is going on, mampus deh gue" jawab hati gue. "looh loh kok bisa pak?? kan spionnya saya suda ada toh satu?" sela gue. 
"iya, tapi kan sekarang ada peraturan baru, peraturannya kaca spion harus dua. jadi mbak kena tilang karena kelengkapan kendaraan bermotornya kurang" tutur polisi. 
"anjrit, kampreet sumpah sialan banget apes deh gue hari ini" kata hati gue.

 Dengan wajah yang penuh shock kaiak yang abiz ketiban tower setinggi 20 meter gue langsung linglung and lemes ditempat. Rasanya bumi ikut berputar-putar bersama otak gue yang pada waktu itu bingung, ndredeg setengah idup. seketika jantung ikut-ikutan berputar, nafas serasa sesak dan udara enggan keluar-masuk dari idungg gue. Idung gue cuma bisa kembang kempis gak tau harus berekspresi apa lagi abiz terkena shock terapi. OmPol (om polisi) itu segera mengambil sebuah buku panjang kecil dan tebal kaiak kumpulan nota ala kwitansi yang biasa beredar dipertokoan. Gue cuma bisa mandangin tu ompol yang sedang sibuknya ngejumlah seberapa banyak pelanggaran yang gue buat kaiak karyawan toko yang lagi nulis rincian pembelian di sebuah nota. 

"Oh ya, nama mbak sapa? Pinjem STNK ama SIMnya" tanya ompol. 
Tanpa ngomong panjang lebar langsung aja gue sodorin lagi SIM ama STNK gue. Spontan hati gue berkata "enggak bisa dibiarin, lo gak bole terima diginiin, masak gara-gara spion lo cuma satu lo harus disangsi padahal lo gak tau aturan baru itu kapan mbrojolnya". 

Sejenak gue merenung dengan cepat, and ngeliat sekitar gue yang nasibnya sama apesnya dengan gue. Mereka sih cuma bisa pasrah ama takdir naas yang sedang menimpa mereka. Gue berusaha untuk enggak dapet sangsi, trus secara kebetulan gue ngeliat ada pengendara laen yang berkaca spion cuma satu doank tapi dibiarin lewat gitu aja ama polisi laen. Secara guys, Sapa cobak yang bisa terima perlakuan enggak adil ini dan enggak berprikepengendaraan kaiak gini. Jelas lo pasti sama gregetannya kaiak gue. Dengan bermodalkan tampang dan nyali pas-pasan, gue langsung mengajukan banding protes ama ompol. 

"pak pak, itu pak cobak liat tu loh pak ada yang kaca spionnya cuma satu tapi gak disuruh berhenti malah disuruh lanjut" ucap gue dengan nada kaiak balita yang sedang merengek sambil nangis minta susu ama nyokapnya. "bapaknya, ayo lah pak saya jangan disangsi, kan ada juga yang sama kaiak saya tapi gak ditilang" lanjut gue. 

Gue terus aja nyerocos protes kaiak bebek yang sedang nyari makan sambil nyosor-nyosorin paruh bersudunya walo gue tau tuh polisi masih sibuk ngerekap nota tilang para pelanggar laen termasuk gue. Ompol pun segera menimpali protesan gue, 

"itu kan beda orang, kamu yang menangani saya. Kalo kamu gak terima sana kejar aja sendiri orangnya. Daritadi kamu ngomong tok" ujar ompol sambil nyodorin Nota tilang ke gue dan berwajah menakutkan dengan warna muka yang gak bisa gue jelasin.

Lo bayangin aja ni ye, wajah berkulit coklat kehitaman lalu memerah karena tingkat titik didih darah bekunya mulai menguap-nguap. Lo pikir aja, apa jadinya jika ketiga warna itu digabungin, tuh muka bakal berubah jadi warna apa. Sumpah deh, nyeremin banget tu ompol kaiak istilah nama grup sepak bola "setan merah" brrrr betapa seramnya sampai bulu kuduk gue terjaga dari kepulasannya. Sejenak gue langsung lemes Part 2 karena terkena shock untuk kedua kalinya dalam tempo yang sama dan makhluk yang sama pula. OMG, ngimpi apa gue semalem kok rasanya kaiak yang abez digampar teflon.

 "tanda tangan disini" ucap ompol pas lagi nyodorin nota tilang ke gue . 

Gue langsung aja nurut apapun yang diperintahkan polisi itu ke gue karena kalo enggak, mungkin idup gue bisa berakhir saat itu juga. Ompol pun segera menulis nota tilang untuk pengendara laen, dan gue bingung saat gue ngeliat SIM gue enggak ada didompet.

 "oh ya pak, SIM saya mana?" gue bertanya. 
"ini disini" jawab ompol sambil menunjukkan STNK and SIM yang disita. 

Langsung aja deh gue menuju ke laundryan and service laptop. Lo tau gak, seketika suasana hati gue langsung ancur lebur kaiak lilin yang leleh secara perlahan. Gue hanya bisa ngelamun dan meratapi nasib sial gue hari itu. Keesokan harinya gue nyoba ngeliat nota tilang itu lagi, 

"loh kok yang dicentang cuma STNK doank, SIMku kok gak dicentang di daftar surat-surat yang disita. padahal SIMku juga disita" kata gue dengan wajah setengah sadar.

 Berdasarkan saran kakak gue, gue disuruh ngambil SIM and STNK gue di bagian pertilangan. Setibanya gue disana, gue nanya ama salah seorang petugas.

 "pak kalo mo ngurusi surat tilang dimana ya pak? SIM ama STNK saya disita dua-duanya pak tapi yang dicentang cuma satu doank" sambil masang wajah melas. 
"loh kok bisa, kesalahannya apa aja kok sampe disita dua-duanya? coba saya liat surat tilangnya" tanya pak petugas itu dengan terheran-heran.

 Gue sodorin aja tu surat, kemudian petugas itu ngarahin gue keruang tempat ngurusin tilang menilang. Sesampainya gue ditempat, gue langsung nyerahin nota tilang itu. Terus laporan kalo kedua surat-surat gue disita. Petugas itupun langsung mencari tumpukan nota-nota tilang.

 "disini cuma ada STNK doank mbak, SIMnya gak ada" ujar petugas itu. Gue langusng keringet dingin and bingung setengah idup, "mampus deh gue, kalo SIM gue ilang trus gimana cobak" kata hati gue. Percakapanpun dimulai :

Gue: "trus gimana pak?"
Petugas: "besok aja mbaknya kembali lagi ya, ntr kita carikan dulu"
Gue:  "tapi besok saya gak bisa pak, saya ngajar paginya"
Petugas: "kalo gitu jum'atnya mbak"
Gue: "jum'at saya gladi bersih persiapan wisuda pak"
Petugas: "hari sabtunya saja mbaknya kesini, sabtu gak ada acara kan???" bertanya sambil tersenyum.
Gue: "oh iya pak, gak ada acara kok. yauda pak, saya permisi dulu. makasih ya pak" ucap gue sambil tersenyum.
Petugas: "iya sama-sama"

Gue langsung buru-buru keluar and nyalain motor menuju cosan. Setibanya gue dicosan, gue langsung ngerebahin badan sambil mikir. Pas lagi asyik-asyiknya mikir, tiba-tiba gue keinget kalo wisuda gue itu jatoh tepat hari sabtu dihari yang sama saat gue bikin janji ama petugas itu. Spontan gue terjaga dari rebahan gue sambil melotot kaget, 

"ancriittt, bego' banget sih gue, kenapa gue bisa lupa ama hari paling penting dalam sejarah penobatan kesarjanaan gue. Kok yang diinget ama gue malah hari gladi bersih yang gak begitu penting-penting amat buat dihadirin -_-!"  

disitulah gue mencoba untuk merilis ide bagaimana cara untuk ngurusin surat-surat gue. Tanpa pikir panjang, akhirnya gue putusin senin depannya gue balik lagi kesana. Saat senin tiba, seperti biasa, lagi-lagi gue harus menyeret mbak kos gue lagi yang bernama ayuk buat nemenin gue ngurusin nasib surat-surat gue yang gak jelas uda idup ato mati. Setibanya disana, gue menemui petugas yang sama.

"pak saya mo ambil SIM saya" ucap gue sambil nyodorin nota tilang. 
"oh ya sebentar saya ambilkan dulu mbak. Mbaknya silahkan duduk sambil menunggu" tutur petugas. 

Gue dan ayuk menunggu dikursi tempat penungguan. Gak lama kemudian petugas itu manggil gue, 

Petugas: "oh ya mbak, ini mbaknya tanda tangan dan biaya penitipannya sebesar sekian-sekian"
Gue: " loh, saya kesini bukan mo ngambil STNK pak, tapi SIM saya. kan kalo ditilang itu harusnya cuma satu doank, bukan kedua-duanya. Ntr saya ngambil STNKnya dipengadilan aja ikut sidang lebih murah. Saya mo ambil SIM pak. saya sudah bolak balik kesini 3 kali lo pak"
Petugas: "tapi disini cuma ada STNKnya doank mbak? sebentar ya, saya tanyakan ama petugas yang nilang mbaknya. silahkan ditunggu mbak"

Gue bener-bener lemes untuk kesekian kalinya, duh gue gak bisa ngebayangin kalo SIM gue ilang. Pas gue duduk, percakapanpun dimulai antara gue dan ayuk:
Ayuk: "piye jarene, onok?"
Gue: "gorong ketemu mbak, sek kape digolek'i"
Ayuk: "lha emange nang dompetmu gak onok ta?"
Gue; "enggak mbak, tepak iku wes tak delok SIMku gak onok. sek yo, tak delok maneh nang dompet"

Gue langsung ngerogoh rogoh dompet gue smbil ngeluarin semua isi dompet dan isinya cuma kertas-kertas stroke pembayaran yang gak mutu. Pas gue liat, sumpah gue kaget setengah mampus. Dengan mata melotot seperti yang mau lompat trus kabur sekenceng-kencengnya, gue langsung keringetan gobyos ngos ngosan kaiak abiz dikejar orang sekampung. Seketika ekspresi gue berubah mencekam dan terbengong bengong melongo sambil mangap. 

"Hah. . . Gilak, SIM gue kok bisa nyelempit didompet. Sejak kapan dia ngumpet didompet gue, seinget gue pas gue nanya SIM gue ke ompol dia ngomongnya SIM gue disita."ucap gue. 

Gleeek gleeek sambil menelan air liur, gue langsung kebingungan dan keringet dingin. Setelah itu gue nunjukin    ke ayuk klo SIM gue ternyata uda ketemu. Lo bisa ngebayangin gimana perasaan and ekspresi gue saat itu. Coba lo berada diposisi gue dalam kondisi yang seperti itu, gue kehabisan ide. Tapi gue gak mau mati gaya maupun mati konyol dihadapan para polisi keren itu. Guepun langsung mikirin trik gimana caranya masang tampang tak berdosa dihadapan mereka karena ternyata SIM yang gue cari-cari selama ini ngumpet di dompet gue. Seketika gue berdiri dengan ekspresi sok bingung.

Gue: "bentar ya pak, saya telfon temen cosan dulu mungkin kesingsal disana" gue berpura-pura nyalain HP sambil menelpon seseorang yang sebenernya gak ada yang gue telpon. 
Gue: "halo, piye wes ketemu ta" oh yowes lek ngono suwon yoo". 

Saat gue menutup telpon yang kenyataannya enggak ada yang gue telfon, gue memberanikan diri dengan menguatkan mental dan memasang wajah tak berdosa yang sebenernya penuh dosa. 
Gue: " enggg... kaiaknya SIMnya uda ketemu pak, ternyata ada dicosan. hehehe. Maaf ya pak"
Petugas: "oooo mbaknya ini menyusahkan diri sendiri saja dan orang laen"
Gue:" iya pak maaf, saya bener-bener minta maaf, saya gak tau kalo ternyata ada dicosan".
Petugas: "yasudah mbak kalo gtu"
Gue: "iya pak makasih ya pak"

Sumpah lo tau gak yang gue rasa, gue bener-bener salting dan mati gaya semati-matinya gaya. bayangin aja lo berurusan dengan polisi untuk urusan yang sebenernya enggak ada kaitannya ama mereka. saat itu juga gue nyeret ayuk buru-buru keluar ruangan karena gue gak mampu menahan malu yang luar biasa bukan maen. Rasanya gue pengen mati aja and pengen nangis trus gak keluar kamar selama seabad saking malunya gue. Gue gak tau apa yang ada dipikiran ayuk saat itu, mungkin kalo bole gue tebak dia pasti mikir "kenapa ya, tiap gue diajak keluar ama si carin pasti terjadi hal-hal aneh yang memalukan dirinya sendiri. Untung gue gak ikut-ikutan, tapi tetep aja kecipratan malu" Prediksi gue tentang pikiran ayuk kala itu. Sekian dan terima kasih. THE END. ^00^